Cara Memahami, Menerima, dan Menyayangi Diri Sendiri
Hidup berarti sesuatu yang ada, terus bergerak, bernapas, dan bekerja seperti biasanya. Bagi saya hidup bukan hanya sekedar bernapas atau bergerak, tetapi hidup adalah kebebasan. Kebebasan untuk memilih, kebebasan untuk melakukan sesuatu, kebebasan untuk tidak melakukan sesuatu, dan masih banyak lagi. Dan pastinya setiap kebebasan harus diikuti dengan rasa tanggung jawab. Hidup dalam kamus saya bukan hanya “hidup” jasmaninya dalam artian bernyawa, tetapi juga “hidup” jiwanya. Saat jiwa kita merasa bebas, disitulah kita menemukan arti hidup yang sebenarnya.
Cara
saya memahami, menerima, dan menyayangi diri sendiri versi saya adalah saya
selalu berpegang bahwa dunia tidak melulu sesuai ekspektasi saya. Adakalanya saya
dibuat kecewa, marah, sedih, dan beragam emosi negatif lainnya. Kenapa begitu? Karena
saya terlalu berekpektasi tinggi pada diri saya. Saya ingin seperti ini, saya
seperti itu, saya harus bisa ini dan itu. Lalu saat kenyataan tidak sesuai
ekspektasi, saya akan marah, kecewa, dan mengeluh. Saya akan merasa lebih
rendah dibanding orang lain, kemudian mulai membanding-bandingkan “kenapa
mereka bisa, sedangkan saya tidak?” dan berujung kehilangan kepercayaan diri. Siklus
yang tidak pernah berubah dan untuk keluar dari siklus tersebut saya harus
ikhlas menerima. Lalu dilanjutkan bersyukur, dengan begitu hati saya akan
lapang, pikiran saya akan jernih, dan mata saya akan terbuka lebar. Ternyata masih
banyak hal yang patut disyukuri, masih banyak hal yang saya dapatkan padahal
saya tidak memintanya. Sekali gagal bukan akhir dari segalanya. Saya masih
punya banyak kesempatan untuk mencoba lagi, lagi, dan lagi.
Kedua,
saya berpegang pada prinsip hidup adalah pilihan. Kata klise nan simple yang
sering orang-orang dengungkan, tetapi sulit untuk diimplementasikan. Kenapa? Karena
setiap pilihan selalu diikuti oleh konsekuensi dan risiko. Orang yang merasa hidup nya tidak memiliki pilihan
berarti tidak berani untuk menghadapi konsekuensi yang ada. Seseorang yang
dikekang oleh orang tuanya pun masih memiliki pilihan. Dia tetap mengikuti
kemauan orang tua nya atau tidak mengikuti kemauan orang tua nya, dua pilihan
itu memiliki konsekuensi dan risiko yang sama berat, tinggal kita yang mau
menerima nya atau tidak. Hidup kita adalah milik kita sendiri. Dan saya ingin
hidup dengan pilihan yang sudah saya tetapkan beserta konsekuensi nya. Contohnya
jika saya memilih untuk tidak mengerjakan tugas maka saya harus bertanggung
jawab dan siap untuk dihukum atau saya malas beribadah dan memilih untuk tidak
melakukan nya maka saya harus mempertanggungjawabkan pilihan saya dihadapan
tuhan saya nanti nya dan menerima konsekuensi nya. Perlu digarisbawahi bahwa
hidup dengan pilihan bukan berarti tidak memiliki konsekuensi dan hidup dengan
bebas bukan berarti tidak dipertanggungjawabkan. Namun, dengan hidup sesuai
kemauan diri sendiri tidak akan memunculkan penyesalan di lain hari.
Dengan
dua hal tersebut saya dapat menarik benang tipis yang menghubungkan keduanya. Karena
dunia tidak selalu sesuai ekspektasi saya, maka saya harus hidup dengan pilihan
yang saya buat. Setidaknya jika saya gagal pun, saya hidup dengan pilihan yang
saya buat dan saya sudah siap dengan konsekuensi yang akan saya terima. Author
terbaik dalam hidup kita adalah diri kita sendiri, jadi hidup lah dengan
pilihan sendiri dan jangan meninggalkan rasa penyesalan di lain hari.
Ini
hanyalah sebuah untaian kata dari seorang perempuan yang hidup untuk dirinya
sendiri, terima kasih sudah membaca tulisan yang tak seberapa ini. Spread Love
to Each Other.
Komentar
Posting Komentar